Kabut Asap Sumatra

Bagi sebagian orang mungkin fenomena kabut asap hanya fenomena biasa. Yang mana jalanan menjadi sedikit gelap. Jarak pandang dalam berkendara menjadi berkurang, dan sebagainya. Bagi saya kabut asap merupakan siksaan tersendiri. Napas sesak, mata perih, hati dongkol.

Saya pernah tinggal di suatu daerah di Sumatra Tengah, yang menjadi produsen kabut asap setiap tahunnya. Tahun ini mungkin lebih hebat lagi ya. Sampai diekspor lho asapnya. Bahkan negeri tetangga sampai kalang kabut akibat tidak sengaja mengimpor kabut asap dari negeri kita. Mereka sampai melayangkan protes.

Banyak komentar-komentar miring di forum internet mengenai sikap protes negeri tetangga. Ah Elaaaah,, lu banyak protes aja, negeri Singa. Penduduk kita aja kagak pada protes. Haloooo. Bapak/Ibu/Saudara, kami penduduk lokal dimana daerah kami adalah produsen kabut asap, sebenarnya juga protes lho. Hanya saja kami sudah cukup lelah untuk protes. Siapa yang akan mendengar protes kami? Bapak Presiden? Bapak-bapak/Ibu-ibu anggota DPR/DPRD? Terus kalau sudah protes gimana? apa akan hilang itu kabut asap? Yang terjadi hanyalah tetap terus saja ada setiap tahunnya. Saya sendiri hanya bisa berdo’a semoga kabut asap kali ini tidak parah, dan tidak akan muncul lagi. “As you wish”, mungkin begitu pikir para pembuka lahan. “Ah yo ben”, jawab saya.

 

Salam Bakar (tapi bukan hutan atau lahan perkebunan)

Advertisements

Tik ketik ketuk

Untuk anda yg masih terpisah dan tercerai berai, semoga Allah segera mengumpulkan anda dan orang-orang yang anda kasihi secepatnya. Karena lelah akan punah ketika melihat senyum dan mendengar tawa orang yang kita sayangi. Ganbarimashou!!!

Today is A Gift

Tiga hari tidak mendengar suara anak bukan perkara yang mudah. Selama raga terpisah hanya sambungan telp yang bisa menyatukan hatiku dan si buah hati. Jagoanku yang kini tinggal di kota kecil dan bukan pulau jawa yang notabene fasilitasnya masih seadanya pun ikut merasakan dampak seadanya tersebut. Dalam seminggu hanya sehari atau dua hari telp dari jepang ini menjangkaunya. Selebihnya hanya nggrundel mempertanyakan kapan telpon ini nyambung kembali. Namun mengingat pepatah orang bijak bahwa hari ini adalah anugrah, maka dengan semangat tujuh belas agustus empat lima, saya pun mengakhiri hari ini dengan penuh kesyukuran. Bersyukur telah berada di negeri ini. Bersyukur dengan susahnya komunikasi yang pasti ada hikmahnya suatu hari nanti..
Ganbatte.

Baiklaaaah… Selamat beristirahat..

21.23 waktu jepang

Yokohama Fish Market: Belanja, Belajar dan Bersenang-senang

Sabtu kemarin saya dan teman-teman berkunjung ke Yokohama Fish Market, pasar ikan terbesar di Yokohama. Untuk menuju tempat ini, kami berhenti di stasiun Yokohama, kemudian keluar di main gate, selanjutnya menuju pintu keluar bagian timur. Dari stasiun dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Selain berjalan kaki, sebetulnya bisa saja menggunakan bus dari stasiun. Namun kemarin kami tidak tahu harus memakai bus yang nomor berapa 😀 (buta huruf kanji problem).
Lhoh? emang ada apa disana? Jalan-jalan kok ke pasar ikan?

Sama seperti dengan judul yang saya buat, di Yokohama Fish Market ini ada tiga point yang bisa kita dapatkan.
1. Belanja
Yokohama Fish Market adalah pusat penjualan ikan terbesar di Yokohama. Disini tersedia ikan segar dalam jumlah banyak dan bervariasi. Tentu saja dengan harga yang lebih miring dibandingkan dengan ikan di supermarket. Namun jangan kaget, harga yang terpampang disana belum termasuk pajak, 5 persen. Selain berbelanja, beberapa toko juga mengadakan demonstrasi teknik memotong ikan tuna yang berukuran sangat besar dengan pedang panjang. Setelah acara demo selesai, pihak toko akan membagi-bagikan ikan segar tersebut gratis kepada pengunjung yang menontonnya. Pada kesempatan kali ini, kami berkesempatan mencicipi ikan tuna dan cumi segar (tentu saja mentah). 😀

20130122-094328.jpgGambar 1.1. Demonstrasi pemotongan ikan tuna segar

20130122-094452.jpgGambar 1.2. Puluhan orang menyerbu ikan tuna segar gratis setelah acara demonstrasi pemotongan ikan usai.

2. Belajar
Di Yokohama selain belanja, kami juga mendapat pengetahuan mengenai bagaimana mengolah sampah Polistirene (PS) yang digunakan sebagai tempat penyimpanan ikan di pasar. PS dihancurkan menjadi serbuk kecil-kecil kemudian dipress sehingga menjadi lembaran-lembaran yang siap dijual kembali ke pabrik pengolahan PS. Hasil pengolahan ini mempermudah distribusi sampah yang mula-mula masih berupa box (gelondongan) menjadi lembaran.

20130122-104026.jpgGambar 2.1. Sampah box penyimpanan ikan (PS) yang akan diolah.

20130122-104058.jpgGambar 2.2. Sampah box penyimpanan ikan masuk ke mesin crusher

20130122-104146.jpgGambar 2.3. Hasil pressan serbuk PS

3. Bersenang-senang
Setelah puas berbelanja dan mendapat pengetahuan baru tentang pengolahan sampah PS, kami pun bersenang-senang. Kami mencoba adrenalin kami dengan memasuki ruangan freezer bersuhu minus 40 derajat Celcius. Bermula dari keisengan untuk mencoba, kami meminta izin kepada bapak petugas freezer room dengan menggunakan bahasa jepang yang ala kadarnya untuk masuk ke freezer room tempat penyimpanan ikan-ikan hasil tangkapan. Alhamdulillah, si bapak petugas bersedia mengantar kami dan menjadi tour guide selama beberapa menit. Sebelum masuk ruangan, kami sedikit diberi penjelasan mengenai hal yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan di dalam freezer room. Dan akhirnya,,, jeng jeng jeeeeng… Pintu dibuka dan brrrrr… Meskipun hanya 3 menit tapi cukup membuat kami membeku sesaat. 😀
.

20130122-112426.jpgGambar 3.1. Persiapan sebelum memasuki freezer room.

20130122-112516.jpgGambar 3.2. Di dalam freezer room.

Demikian cerita jalan-jalan kali ini. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

Cup Noodle Museum, surganya penggemar mie instan

Beberapa minggu yang lalu, saya dan teman saya Intan, pergi ke Minatomirai, Yokohama untuk jalan-jalan sambil silaturahmi ke kakak kelas kami tercinta (halah :D). Nah tempat-tempat yang kami kunjungi di Yokohama ini sudah pernah saya tulis sebelumnya di post Ngebolang ke Yokohama part 1 dan part 2 (categories: jalan-jalan). Selain tempat-tempat yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya, kami berdua juga mampir ke Museum Cup Noodle yang letaknya dekat banget dengan gedung JICA. Tempat ini sangat menarik bagi kami berdua, karena kami penggemar berat mie instan. Informasi mengenai cup noodles museum selengkapnya dapat diakses ke link berikut http://www.cupnoodles-museum.jp/english/index.html.

Pertama kali masuk ke gedung cup noodles museum, kami harus masuk ke bagian pembelian tiket di lobby lantai satu gedung ini. Harga tiketnya 500 yen belum termasuk Kelas Pembuatan Mie Instan. Kelas Pembuatan Mie Instan ini maksudnya suatu training singkat tentang packaging cup noodles. Intinya sih kita bisa mendesign cup noodles ala kita sendiri, misalkan mau digambarin logo Cup Noodles Mak Nyoos pake fotonya Pak Bondan yang sedang berekspresi setelah mencicip cup noodles tersebut (misalnya). Tapi, untuk mengikuti kelas ini kita harus membayar biaya tambahan sebesar 300 atau 500 yen, saya lupa pastinya berapa.

Nah, kalau kita tidak ikut kelas itu, lalu apa yang kita dapatkan dengan tiket masuk 500 Yen tadi? Banyak banget kok, jangan kawatir. Kita bisa masuk ke Creative Thinking Box yang terletak di lantai 2 gedung ini. Di creative thinking box ini kita diajak untuk berimajinasi, membayangkan hal-hal yang diluar kebiasaan. Namanya juga creative thinking box, banyak hal-hal kreatif yang bisa membuat kita terpana sejenak dan manggut-manggut sambil bergumam, “Ooo… Wooow… Sugoiiii…”. Selain itu di lantai 2 kita juga bisa menemui replika kedai mie jepang jadul.

Naik ke lantai 3. Disinilah lokasi kelas pembuatan cup noodles, jika anda ingin ikut kelasnya. Jadwalnya tertentu. Ketika kami kemarin kesana, kelas tersebut full sampai 3 jam kedepan. Jadi kami tidak berkesempatan untuk mengikutinya. Namun bagi yang ingin mengikuti kelas ini, bisa menanyakan jadwal kelas di bagian penjualan tiket masuk di lantai satu.

Lantai 4 isinya tempat bermain untuk anak-anak yang terbuat dari kardus-kardus mie instan, namanya Chicken Noodles Park. Di dalam arena bermain ini saya tidak menemukan orang dewasa satu pun, jadi kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalamnya. Namun bagi anda yang membawa putra dan putrinya dan bermaksud masuk arena ini, anda harus membeli tiket masuk arena bermain tersebut di loket lantai 4. Berapa harga tiketnya saya tidak tahu pasti. Nah, sambil menunggu si kecil bermain, anda bisa melihat pemutaran video proses pembuatan mie instan, mulai dari bahan baku, proses pembuatan mienya, proses packaging dalam cup sampaip kemudian packaging dalam kardus. Lumayan bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Lelah bermain, anda bisa masuk ke Noodles Bazar. Ini adalah pasar mie, dimana kita akan menemukan masakan mie dari seluruh dunia, seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, China, dll, dan kita bisa makan di bazar tersebut karena disediakan tempat seperti kantin kecil. Sayangnya, saya dan Intan tidak mencoba mencicipinya karena waktu yang terbatas.

Nah berikut saya selipkan gambar denah daerah Minatomirai, Yokohama dan lokasi Cup Noodles Museum serta tempat-tempat menarik lain bisa dilihat pada denah berikut.

lokasi Cup Noodles Museum

 

Salah satu yang menarik di cup noodles museum adalah ratusan mie yang terpajang rapi di dinding serta mie edisi doraemon.

IMG_0502

mie-mie di cup noodles museum

mie-mie di cup noodles museum

 

Demikian liputan jalan-jalan kali ini. Tetap sehat dan tetap bersemangat biar bisa ngebolang lagi di tempat lain.

 

Peraturan Sampah Aoba-ku

Hampir seminggu saya pindah dari nagatsuta dormitory ke aoba-ku UR apato bersama ibu yang senasib sepenanggungan dengan saya, haha, tak lain tak bukan di tokodai ini cuma satu yang jauh dari suami dan anak selain saya.

Nah beberapa hari setelah repot dengan usung mengusung barang, saya pun melapor ke aoba-ku ward office yang letaknya 10menit dari stasiun ichigao mengenai kepindahan saya. Kemudian dari sana saya mendapat oleh-oleh berupa panduan hidup di aoba-ku. Isinya berupa informasi mengenai perpustakaan aobaku, aneka kegiatan anak-anak dan parenting serta yang paling penting adalah pemilahan sampahnya.

Di Aobaku, sampah dikategorikan menjadi 15 jenis, antara lain: Burnable waste (lebih ke sampah dapur), Dry Battery, Plastic&Food Package, PET bottle, Paper, Cans, Pakaian bekas, Sampah Kaca (Gelas), Sampah yang ukurannya lebih dari 30cm, Sampah elektronik, lima yang lain saya belum hafal, hehe, masih harus membaca buku panduannya dulu sebelum membuangnya.

Nah masing-masing jenis sampah ini punya jadwal tersendiri dalam pembuangannya. Misalkan, untuk sampah dapur, jadwal pembuangannya ada pada hari Rabu dan Sabtu. Selain hari itu tidak boleh.

Semua sampah tersebut, kecuali sampah yang ukurannya 30cm dan kertas bekas, harus ditempatkan dalam kantong plastik transparant (bening), agar petugas kebersihan dapat mengecek isi sampah tersebut. Jika tidak sesuai dengan peraturan, bersiaplah untuk menerima hadiah dari petugas kebersihan tersebut yaitu berupa sampah anda sendiri yang dikembalikan lagi. Di aoba-ku tidak diperlukan kantong plastik khusus untuk membedakan jenis sampah yang akan dibuang, seperti di daerah lain, jadi lebih irit karena tidak perlu membeli kantong khususnya (untuk dibuang lagi, hehe).

Demikian informasi pemilahan sampah di aoba-ku. Lain ladang lain belalangnya, Lain daerah lain pula pemilahan sampahnya.
-buanglah sampah menurut jenisnya-

Think Outside The Box

Seaneh apapun produksi/bidang kita tetap ada marketnya. Ini adalah sepotong kalimat yang disampaikan oleh bapak Iqbal di aula H111 Main Building Ookayama kemarin. Kalimat ini sungguh inspiratif, terutama bagi kita pelakon dunia teknogi, yang setidaknya bisa menciptakan teknologi untuk kemaslahatan orang banyak. Seaneh-anehnya teknologi pasti akan ada pasarnya. Contohnya saja, saya punya teman yang menggeluti rayap sebagai bidang penelitiannya. Bagi kita orang Indonesia pasti kita berpikir, ngapain sih meneliti rayap, yang ada rayap itu harus dimusnahkan karena sudah menghancurkan lemari kayu kita, misalnya. Namun ternyata rayap itu memiliki sebuah potensi luar biasa di dalam dirinya yaitu bisa menjadi cikal bakal bahan bakar. Sebenarnya bukan rayapnya, tetapi bakteri yang ada dalam tubuh rayap yang membuat rayap berpotensi menjadi sumber energi. Lha ini malah lebih aneh lagi. Sudah ngurusin rayap, dan ternyata yang menjadi fokusnya bakteri dalam rayap. Ckckck. Aneh kan? Tapi di Jepang, hal ini dikembangkan.
Mengembangkan teknologi mungkin merupakansuatu hal yang mengasyikkan bagi pelakon dunia r&d saat ini. Tapi bisakah teknologi tersebut diterima oleh masyarakat dengan mudah? Ini juga merupakan isi materi Pak Iqbal yang mengusik sanubari saya. Masih hangatnya penolakan aplikasi energi nuklir di Indonesia sebagai sumber energi alternatif untuk bisa mengurangi kekurangan produksi listrik, bisa jadi karena kita tidak bisa memasarkan dengan baik bahwa ada lho teknologi aman untuk menghandle barang radioaktif ini. Kemudian saya pernah punya pengalaman untuk meyakinkan customer tentang penggunaan tali sling baja sebagai alat pengaman bagi pekerja maintenance boiler yang bekerja di ketinggian. Saat itu customer itu sangat menyangsikan bahwa tali ini aman bagi pekerja mereka. Ternyata memang sulit sekali meyakinkan customer tersebut, meskipun sama-sama orang teknik. Dari situ saya belajar, oo ternyata kita juga butuh orang sosial untuk memasarkan hasil teknologi ini. Mungkin kalau yang ngomong teman-teman dari sosial mereka lebih bisa memahami, karena teman-teman yang bergerak di bidang tersebut memiliki ilmu untuk menghadapi customer.
Kesimpulannya, seaneh apapun bidang kita tetap ada marketnya, namun jangan lupa untuk juga berinteraksi dengan teman-teman dari bidang lain agar pemasarannya lebih mudah, sehingga teknologi yang sudah kita pikirkan, hitung njlimet sampai tidak pulang dari laboratorium ini bisa diaplikasikan dan diterima oleh masyarakat.

Manajemen Sampah dimulai dari Rumah

Ketika saya baru pertama kali datang ke asrama saya di Jepang, saya langsung diberi beberapa lembar kertas berisi aturan pemilahan sampah dan jadwal pembuangannya. Pemilahan sampah didasarkan pada jenis sampah itu sendiri, yaitu:

  1. Sampah yang dapat terbakar (Burnable Waste), terdiri dari sampah dapur, seperti sisa makanan, kulit buah dan sayur, potongan-potongan kertas kecil, dan lain-lain.
  2. Sampah plastik bungkus makanan, terdiri dari bungkus bento, kantong plastik yang tidak terpakai, dan lain-lain
  3. Sampah botol plastik (PET), yang merupakan botol air minum, kecap atau saus yang terbuat dari plastik PET.
  4. Sampah kaleng atau logam
  5. Sampah buku bekas atau kertas bekas

Kelima jenis sampah ini memiliki jadwal pembuangan yang berbeda-beda. Contohnya saja, misalkan Burnable Waste hanya bisa dibuang ke tempat sampah di depan rumah pada hari Senin dan Jumat. Maka dilarang keras untuk membuangnya pada hari selain Senin dan Jumat.

Hal yang paling unik mengenai sampah di Jepang, adalah sulitnya menemukan tempat sampah umum di taman atau pinggir-pinggir jalan raya di Jepang. Sering sekali ketika sedang jalan-jalan, saya bingung sendiri mencari tempat sampah di pinggir jalan untuk membuang bungkus jajanan yang saya makan tadi. Paling mudahnya adalah saya menyimpan sampah tadi untuk dibuang di tempat sampah di rumah. Namun sulitnya menemukan tempat sampah ini bukan berarti kita akan menemukan sampah dengan mudahnya di sepanjang jalan. Rupanya ini tidak menjadi alasan bagi warga Jepang untuk membuang sampahnya sembarangan. Mereka dengan penuh kesadaran akan tetap menyimpan sampah mereka hingga menemukan tempat sampah. Pilihan lainnya ya sama seperti saya tadi, membuangnya nanti ketika sudah sampai di rumah. Dan ternyata pilihan ini pun ternyata tidak sulit, ketika kita terbiasa.

Terbiasa memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya, minimal akan membuat lingkungan anda menjadi bersih. Tapi tahukah anda, dibalik buruknya penampilan sampah, ternyata sampah adalah salah satu sumber energi terbarukan yang sangat potensial? Sayangilah sampah anda, karena sampah adalah sumber energi masa depan.

Ketika Harus Sakit di Negeri Orang

Tiga hari ini saya terkapar di dormitory. Benar-benar terkapar. Mula-mula sih hanya pusing pada hari pertama. Njuk lama-lama jadi vertigo, muter-muter gak karuan. Mau bangun rasanya muter semua pandangan plus mual rasa seperti mau muntah. Akhirnya saya coba untuk tidur sambil berharap ini sakit bakalan hilang setelah bangun tidur. Ternyata ketika saya bangun, kok tidak ada perubahan malah seperti gempa bumi. Dan saya pun memberanikan diri mengirim pesan kepada beberapa teman untuk minta bantuan. Mohon maaf dan terimakasih banyak yang kemarin saya repotin, ^^V.

Akhirnya saya pun digotong ke klinik terdekat, dan diberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya oleh dokter. Alhamdulillah di hari ketiga ini sudah agak mendingan. Dari sini saya mendapat pelajaran, mudah-mudahan sih tidak terjadi lagi pada saya maupun anda, mengenai persiapan yang harus dilakukan bilamana suatu saat anda sakit.

1. Ketika sehat, tolong cek dimana lokasi klinik atau rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tinggal. Jadi ketika badan sudah mulai tidak enak, segera pergi ke klinik atau rumah sakit tersebut. Jangan menunggu sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Apalagi jika di rumah gak ada orang sama sekali. Haduuuh rasanya, amit-amit gak mau lagi.

2. Sediakan obat penghilang rasa sakit sementara, seperti obat sakit kepala, obat flu, obat magh (untuk yang biasa magh), obat batuk, obat asma, dan lain-lain. Sehingga bilamana sakitnya datang langsung bisa diobati.

3. Simpan nomor telepon atau email penting, seperti klinik/rumah sakit, ambulans, tutor, room mate, teman-teman terdekat anda. Antisipasi kalau-kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dan di rumah gak ada orang.

4. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau tahu cuaca lagi gak bersahabat mendingan jangan kelayapan (kalau ini kayaknya susah ya, apalagi kalau baru pertama kali menginjakan kaki di Jepang, inginnya lihat tempat ini lihat tempat itu) :D. Makan teratur dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Minum air putih minimal 8 gelas sehari. Tidur yang cukup, jangan begadang. Tidak boleh stress, ini yang penting. Yaa kalau yang jauh dari keluarga ditahan-tahanin dulu lah, jangan dipikir banget, bisa stress ntar (lhoh ini mah curhat :D)

Baiklah. Jaga kesehatan agar bisa terus beraktivitas.

Ibu Hayakawa Kazuko, inspirasi minggu ini

Sabtu pagi yang mendung, mendadak cerah. Di depan stasiun Suzukakedai, sekitar dua puluhan warga Jepang menggelar dagangan barang bekas pakai, seperti jaket, baju anak-anak, boneka, tas, piring, buku bacaan, CD musik, dompet, dan banyak lagi. Satu stand yang cukup melirik minat saya (dan teman saya, Mommy Hiro, yang senasib dengan saya, hehe) adalah stand buku bacaan anak-anak, milik seorang ibu paruh baya. Ia menggelar beberapa buku bacaan anak-anak yang penuh warna dan beberapa lembar catatan-catatan puisi yang dijilid sederhana. Ketika kami berhenti di depan stand itu, si Ibu penjaga stand itu tampak sedang melayani seorang anak laki-laki dan orang tuanya yang membeli sebuah buku bacaan untuk si anak tersebut. Si Ibu itu menuliskan catatan di halaman pertama buku itu sejenak dan sebuah tulisan Be Brave. Ia berpesan kepada anak untuk berani dan jangan pernah menyerah sembari memberikan buku tersebut. Kami pun curiga, nampaknya Ibu ini si penulis buku itu sendiri.

Perlahan kami membuka buku bacaan itu satu per satu. Tampak goresan huruf hiragana, katakana dan sedikit kanji serta tulisan romaji yang berbahasa inggris. Rupanya buku ini dwi lingual. Tulisan tersebut lebih mirip sebuah puisi dibanding cerita yang denotatif. Kemudian gambaran dari kata-kata itu adalah sebuah lukisan yang indah, natural dan terkesan buatan tangan. Rasa penasaran membuat kami sedikit menginterogasi si Ibu. Rupanya dugaan kami tidak salah. Ibu itu si penulis buku-buku yang ia jual di stand bazar Suzukakedai hari ini. Selain menulis ia juga menggambar ilustrasinya. Kemudian buku ini pun diterbitkan oleh sebuah penerbit di Jepang.

Sembari melihat-lihat satu per satu buku yang terhampar di lesehan, kami berdiskusi tentang yang namanya sebuah mimpi dan kerja keras. Ibu itu bercerita, bahwa beliau sangat suka menulis. Puisi, cerita, apa saja ditulis. Beliau juga gemar menggambar. Bukan gambar realistis, lebih ke gambar sederhana namun padu padan warnanya sangat indah. Hal ini terlihat di semua buku yang beliau buat. Dan mimpi Ibu tersebut adalah menerbitkan coretan-coretan pena dan kuasnya ke dalam sebuah buku, agar anak-anak bisa membacanya. Mimpi itu dimulai sekitar lima atau enam tahun lalu, kemudian pada tahun 2007, terbit buku pertamanya Poketto Ketto, disusul beberapa buku pada bulan-bulan berikutnya.

Buku yang Saya beli judulnya Ashita no Ki (Tree of Tomorrow). Buku ini bercerita tentang kehidupan di gurun yang gersang, kemudian sebatang pohon di tengah gurun, serta hidup. Satu bait terakhir yang saya petik dari buku ini,

“Life!” Someone cried out, “Life!” All the people sang. “Tomorrow!” Someone cried out, “Tomorrow!” All the people danced. “Tomorrow! Tomorrow!” The sapling grew and grew with the song

20121125-210144.jpg

Kembali ke si penulis. Ibu Hayakawa Kazuko, namanya. Ia tinggal sendiri di sebuah rumah di daerah Aoba-ku. Ia berumur 60 tahun dan masih giat menulis. Ibu Kazuko berulang-ulang menyemangati kami untuk mengejar mimpi dengan kerja keras. Beliau mencontohkan dirinya sendiri yang sudah berusia lanjut namun masih bisa mewujudkan cita-cita meskipun sedikit terlambat. Dan berulang kali beliau dengan kilauan mata memancarkan cahaya semangat, memberi dorongan untuk maju, karena kami masih sangat muda. Be Brave! Dua kata itu selalu terucap. Dan dua kata itu yang tertulis di halaman depan sampul buku yang saya beli untuk anak saya Lee Kiral Girensyaf.

“To Ree (Lee dalam bahasa Jepang), Be Brave!”

Setelah memberikan buku dan tulisan penyemangatnya di sampul depan, Ibu Hayakawa Kazuko juga memberikan kartu nama beliau serta mengundang kami datang berkunjung ke rumahnya untuk berbagi cerita. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kesana. Tak lupa sebelum berpisah kami pun berfoto bersama.

Terimakasih Ibu Hayakawa Kazuko, terimakasih atas letupan semangatnya di sabtu pagi yang cerah.

Kanagawa, 25 November 2012

futori