Kabut Asap Sumatra

Bagi sebagian orang mungkin fenomena kabut asap hanya fenomena biasa. Yang mana jalanan menjadi sedikit gelap. Jarak pandang dalam berkendara menjadi berkurang, dan sebagainya. Bagi saya kabut asap merupakan siksaan tersendiri. Napas sesak, mata perih, hati dongkol.

Saya pernah tinggal di suatu daerah di Sumatra Tengah, yang menjadi produsen kabut asap setiap tahunnya. Tahun ini mungkin lebih hebat lagi ya. Sampai diekspor lho asapnya. Bahkan negeri tetangga sampai kalang kabut akibat tidak sengaja mengimpor kabut asap dari negeri kita. Mereka sampai melayangkan protes.

Banyak komentar-komentar miring di forum internet mengenai sikap protes negeri tetangga. Ah Elaaaah,, lu banyak protes aja, negeri Singa. Penduduk kita aja kagak pada protes. Haloooo. Bapak/Ibu/Saudara, kami penduduk lokal dimana daerah kami adalah produsen kabut asap, sebenarnya juga protes lho. Hanya saja kami sudah cukup lelah untuk protes. Siapa yang akan mendengar protes kami? Bapak Presiden? Bapak-bapak/Ibu-ibu anggota DPR/DPRD? Terus kalau sudah protes gimana? apa akan hilang itu kabut asap? Yang terjadi hanyalah tetap terus saja ada setiap tahunnya. Saya sendiri hanya bisa berdo’a semoga kabut asap kali ini tidak parah, dan tidak akan muncul lagi. “As you wish”, mungkin begitu pikir para pembuka lahan. “Ah yo ben”, jawab saya.

 

Salam Bakar (tapi bukan hutan atau lahan perkebunan)

Advertisements