Koudasai Tokodai, Sate dan Angklung

Hari ini universitas tempat saya kuliah di Jepang, Tokodai, mengadakan acara festival tahunan, yang diberi nama Kodasai. Di festival ini kami mahasiswa Indonesia membuka stand untuk jualan sate, makanan khas Indonesia dan Teh Manis (karena teh disini rasanya sangat hambar) :D. Selain itu, kami juga memamerkan barang-barang khas Indonesia, seperti batik, miniatur candi borobudur, dan lain-lain. Hiburan berupa kesenian angklung juga ditampilkan di depan stand Indonesia tersebut.

Gambar 1. Para pelajar Indonesia Tokodai menyambut pengunjung stand Indonesia dalam festival koudasai di Ookayama Campus, Tokodai

Stand Indonesia di festival ini dibuka pada pukul 10:00 waktu setempat. Pengunjung dapat menikmati sate ayam maupun kambing dengan bumbu kacang yang dibuat dari tangan-tangan pelajar Indonesia Tokodai, dengan membayar 100 Yen tiap tusuknya, jika dirupiahkan sekitar Rp. 12.000,00 per tusuk. Wooow. Sekilas mungkin sangat mahal apabila dibandingkan dengan harga di Indonesia, dimana kita bisa mendapatkan satu porsi sate (10 tusuk) dengan harga yang sama. Namun, hal ini tidak berarti diperoleh untung yang melimpah dari penjualan dengan harga tersebut, mengingat harga bahan baku daging ayam dan kambing di Tokyo sangat mahal. 🙂 Di Jepang sebetulnya juga terdapat makanan yang hampir serupa dengan sate, namun berbeda bumbunya. Sate yang kami buat ternyata laris manis di pasaran. Banyak pengunjung stand yang antri untuk menunggu sate matang, karena terjual habis pada sesi pertama penjualan. Mereka pada umumnya penasaran dengan bumbu kacang yang khas Indonesia. Dan ternyata mahalnya harga tidak menyurutkan semangat pengunjung untuk memborong sate-sate tersebut. 🙂

Memasuki pukul 11:00 tim angklung segera mempersiapkan diri untuk unjuk kebolehan. Kami menyanyikan dua buah lagu berbahasa Jepang, yang sangat akrab di telinga warga Jepang yang menonton pertunjukan angklung ini. Hampir seluruh pengunjung terpukau dengan alat musik bambu ini. Tak sedikit dari mereka yang menggumamkan lagu tersebut dengan bergoyang perlahan. Bahkan banyak dari mereka yang selanjutnya menanyakan bagaimana bambu ajaib ini dapat menghasilkan nada dan mengalunkan suara yang indah. Kami pun sedikit memberikan couching clinic terhadap penonton yang tertarik dengan angklung tersebut.

Gambar 2. Pengunjung stand Indonesia di festival koudasai tokodai belajar bermain angklung

Cara memainkan angklung sebenarnya tidak sulit. Satu tangan memegang angklung dengan kuat, dan satu tangan yang lainnya menggoyang-goyangkan bagian bawah angklung sehingga bergetar. Getaran bambu inilah yang menghasilkan nada pada angklung tersebut. Setiap nada diwakili oleh satu angklung. Nada yang dihasilkan tersebut dipengaruhi oleh ukuran dari angklung itu sendiri. Angklung berukuran besar akan menghasilkan nada rendah. Semakin tinggi nada angklung, semakin kecil ukurannya.

Setelah belajar cara memainkan angklung, penonton-penonton tadi selanjutnya diminta untuk menjadi bagian dari orkestra angklung pelajar Indonesia, dan diminta untuk memainkan lagu bersama-sama. Mereka senang bisa belajar bermain angklung, kami pun bangga bisa mengenalkan angklung sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.

Kami pelajar Indonesia di negeri lain,,,

Saat ini mungkin kami belum bisa mengabdi di tanah kelahiran kami,,,

Saat ini mungkin kami belum bisa memberikan kontribusi bagi ibu pertiwi kami,,,

Tetapi kami disini tidak lah akan berdiam diri…

Kami mempunyai misi membawa Indonesia berkibar dimana pun kami berdiri…

Jayalah Indonesia

Kanagawa, 6 Oktober 2012

-futori-

Advertisements