angklung, musik dan indonesia

Dari kecil saya senang musik dan nyanyi. Cuma karna suara saya lebih jelek dari adik saya, karena beda tipe juga sih, adik saya melengking ringan dan saya lebih ngebass dan berat, dan ibu saya selalu bilang suara adik saya bagus dan berbakat nyanyi (ini pelajaran buat ibu-ibu, jangan suka banding-bandingkan anak), saya jadi lebih cenderung ke musik. semua alat musik yang ada di rumah saya bisa main. emang apa aja alat musik di rumah, kayak banyak aja. sedikit sih cuma keyboard (yang udah rusak dari tahun 1998 karena dipukulin adik saya yang bungsu), pianika (yaah ini mah anak tk jg bisa), seruling (saya suka bawain lagu the corrs kalau lagi main seruling) dan gitar. pengen banget bisa piano tapi gak punya duit buat beli atau les. hehe.
saya biasa main otodidak. dengerin lagu dengan seksama terus coba nyari sendiri nada atau kuncinya. dulu saya paling benci sama orang yang main gitar sambil lihat buku accord, tapi sekarang saya maklum, orang bikin paper aja juga butuh referensi dari jurnal-jurnal (analogi yang gak nyambung :)). makanya kemarin waktu latihan angklung kuping saya gatel pas ada nada salah di lagu 3gatsu 9ka :D, karna saya tahu banget itu lagunya.

angklung, alat musik tradisional asli indonesia. saya menyebutnya bambu ajaib. ;). dulu waktu sd saya pernah ikut lomba ansamble musik, tapi gak menang karena tim saya kacau banget :(. dan pemenangnya itu tim yang angklung jadi instrument utama nya. trus saya mbatin, kapan ya saya bisa mainin angklung. cuma mbatin. dan alhamdulillah di tokodai saya diberi kesempatan untuk memainkannya, meski sebentar. dengan bermain angklung minimal saya melakukan sesuatu untuk melestarikan kesenian khas indonesia sebelum diklaim negara lain.
sayonara angklung, meskipun saya tidak bisa memainkan lagi tapi saya tetap bangga mengatakan angklung adalah bambu ajaib asli indonesia. sukses terus untuk tim angklung tokodai.

futori

20121116-101106.jpg

Advertisements

Dukungan Keluarga

Banyak yang bertanya, mengapa saya bisa sampai di tempat ini. Apakah untuk bisa kesini itu sulit. Hal apa saja yang dibutuhkan. Jawaban saya yang paling penting adalah niat serta dukungan keluarga. Karena tanpa dukungan keluarga, rasanya niat hanya sebatas angan-angan.

Saya bersyukur diberi keluarga yang begitu baik dan mendukung langkah saya dalam menggapai cita-cita saya. Mungkin pada tulisan ini saya akan mengungkapkan rasa terimakasih saya yang sebesar-besarnya terhadap keluarga dan orang-orang terdekat saya yang tidak henti-hentinya mendukung saya, yang mendorong saya lagi ketika saya nglokro, yang mengingatkan saya ketika saya lupa, dan yang menyayangi saya selalu.

1. Mommy

Mommy is the best. Beliau yang selalu memompa darah semangat saya untuk menuntut ilmu dan mengembangkan potensi saya. Beliau lah yang selalu mensupport saya untuk melakukan sesuatu yang positif. Beliau lah yang selalu mengangkat saya kembali ketika saya jatuh. Beliau yang memberi hembusan angin sejuk ketika hati ini sedang panas gundah. Beliau yang menjadi tameng saya dari pandangan membunuh orang sekitar. Beliau adalah segalanya buat saya. Saya teringat ujaran guru bahasa Jawa saya serta guru tari saya pada suatu hari ketika Mommy hendak mendaftarkan saya menjadi murid tari beliau untuk lomba pelajar teladan tingkat SD. Beliau berkata,”anak polah bapa kepradah nggih bu”. Artinya tingkah laku anak baik itu yang baik apalagi yang jelek selalu membuat orang tua susah. Dan Mommy saya hanya senyum. Well Mom.. Maafkan saya sudah membuat Mommy letih sepanjang hidup mommy karena polah saya. But deep inside my heart, saya ingin membuat Mommy bangga. ๐Ÿ™‚ Mudah-mudahan Mommy pulang ke tanah air dari tanah suci dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur ya. Luv u.

2. Suami

Meskipun baru tiga tahun menikah, tapi suami juga sangat mendukung langkah saya. Beliau adalah guru kehidupan saya, yang mendidik saya dengan caranya yang khas dan unik. Beliau dengan ikhlas merelakan haknya agar saya bisa berkembang di luar rumah. Meskipun jauh di dalam hati saya, saya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa, namun beliau mendorong saya untuk bisa lebih dari itu. Beliau membuat saya istimewa. Terimakasih sayang.. Semoga Allah segera mengumpulkan kita kembali ya. ๐Ÿ˜‰

3. Mbak Saya

Mbak Saya juga supperrr (ambil istilah Mario Teguh). Beliau juga yang tak henti-hentinya mendorong saya ketika saya gamang dan banyak berpikir hal-hal yang gak penting :D.

4. Keluarga suami

Keluarga suami juga penentu langkah saya. Karena tanpa dukungan keluarga suami (yang inti lho ya) mungkin saya tidak bisa sampai disini. Ibu mertua saya bahkan rela mengasuh anak saya di hari tuanya biar saya bisa berangkat dan mempersiapkan semuanya sebelum anak saya menyusul. Terimakasih Bu… Jasamu sungguh tak terkira…

 

Dan setelah menulis ini, saya jadi rindu mereka semua.

Selamat malam…

Kanagawa, 26 Oktober 2012

Futori

Kota Sejuta Motor

Gambar 1. Situasi tempat parkir di kampus X di Yogyakarta

Kebalikan dengan kisah sepuluh ribu langkah yang saya buat sebelumnya, maka kali ini saya ingin menceritakan pengalaman teman saya yang sekarang sedang ada di Yogyakarta. Pengalaman ini juga pastinya saya alami selama berpuluh-puluh tahun (emang umur saya sekarang berapa) :D.

Baiklah dimulai dengan profil teman saya itu. Namanya Ms. P (bukan Putri yang pasti). Warga negara Thailand. Sekarang sedang menjadi doctoral student tahun ke 2 dan satu laboratory dengan saya. Minggu kemarin si P ini dikirim ke Indonesia untuk keperluan penelitian. Kebetulan sensei kami ini sangat hobi mengirim mahasiswanya keluar negeri untuk memperoleh pengalaman baru di dalam pengambilan data penelitiannya. Dan jadilah si P serta dua orang lainnya berangkat ke Indonesia, tepatnya Yogyakarta, untuk beraktivitas di salah satu laboratorium di Fakultas Teknik UGM.

Setelah beberapa hari di Yogyakarta, P langsung mengunggah foto yang saya tampilkan pada gambar 1 di atas. Sebuah situasi tempat parkir sepeda motor di laboratorium tempat P beraktivitas. “City of motorcycle”, begitulah P memberi judul foto tersebut. Ini karena P sangat heran dengan kebiasaan orang di Yogyakarta (khususnya) dan Indonesia umumnya yang kemana-mana menggunakan sepeda motor, hingga tempat parkir pun bisa sangat penuh seperti yang terlihat pada gambar di atas.
Kalau kita menganggap hal itu masih wajar, karena kita merupakan salah satu pemakainya. ๐Ÿ˜€

Ternyata oh ternyata, kebiasaan ini mengundang decak kagum P. Disaat minyak bumi semakin langka, dan harganya semakin lambung, dimana di negara maju pemakaiannya dikurangi, tetapi di Indonesia masih bisa dipakai semaunya. Yaaaah itulah Indonesia tanah air beta, P. Jangan heran karena kami masih bebas. Hehe. Jadi rindu untuk pulang dan bebas ber-motorcycle-an lagi. ๐Ÿ™‚

Kanagawa, October 11 2012

-futori-