Kabut Asap Sumatra

Bagi sebagian orang mungkin fenomena kabut asap hanya fenomena biasa. Yang mana jalanan menjadi sedikit gelap. Jarak pandang dalam berkendara menjadi berkurang, dan sebagainya. Bagi saya kabut asap merupakan siksaan tersendiri. Napas sesak, mata perih, hati dongkol.

Saya pernah tinggal di suatu daerah di Sumatra Tengah, yang menjadi produsen kabut asap setiap tahunnya. Tahun ini mungkin lebih hebat lagi ya. Sampai diekspor lho asapnya. Bahkan negeri tetangga sampai kalang kabut akibat tidak sengaja mengimpor kabut asap dari negeri kita. Mereka sampai melayangkan protes.

Banyak komentar-komentar miring di forum internet mengenai sikap protes negeri tetangga. Ah Elaaaah,, lu banyak protes aja, negeri Singa. Penduduk kita aja kagak pada protes. Haloooo. Bapak/Ibu/Saudara, kami penduduk lokal dimana daerah kami adalah produsen kabut asap, sebenarnya juga protes lho. Hanya saja kami sudah cukup lelah untuk protes. Siapa yang akan mendengar protes kami? Bapak Presiden? Bapak-bapak/Ibu-ibu anggota DPR/DPRD? Terus kalau sudah protes gimana? apa akan hilang itu kabut asap? Yang terjadi hanyalah tetap terus saja ada setiap tahunnya. Saya sendiri hanya bisa berdo’a semoga kabut asap kali ini tidak parah, dan tidak akan muncul lagi. “As you wish”, mungkin begitu pikir para pembuka lahan. “Ah yo ben”, jawab saya.

 

Salam Bakar (tapi bukan hutan atau lahan perkebunan)

Advertisements

Today is A Gift

Tiga hari tidak mendengar suara anak bukan perkara yang mudah. Selama raga terpisah hanya sambungan telp yang bisa menyatukan hatiku dan si buah hati. Jagoanku yang kini tinggal di kota kecil dan bukan pulau jawa yang notabene fasilitasnya masih seadanya pun ikut merasakan dampak seadanya tersebut. Dalam seminggu hanya sehari atau dua hari telp dari jepang ini menjangkaunya. Selebihnya hanya nggrundel mempertanyakan kapan telpon ini nyambung kembali. Namun mengingat pepatah orang bijak bahwa hari ini adalah anugrah, maka dengan semangat tujuh belas agustus empat lima, saya pun mengakhiri hari ini dengan penuh kesyukuran. Bersyukur telah berada di negeri ini. Bersyukur dengan susahnya komunikasi yang pasti ada hikmahnya suatu hari nanti..
Ganbatte.

Baiklaaaah… Selamat beristirahat..

21.23 waktu jepang

Think Outside The Box

Seaneh apapun produksi/bidang kita tetap ada marketnya. Ini adalah sepotong kalimat yang disampaikan oleh bapak Iqbal di aula H111 Main Building Ookayama kemarin. Kalimat ini sungguh inspiratif, terutama bagi kita pelakon dunia teknogi, yang setidaknya bisa menciptakan teknologi untuk kemaslahatan orang banyak. Seaneh-anehnya teknologi pasti akan ada pasarnya. Contohnya saja, saya punya teman yang menggeluti rayap sebagai bidang penelitiannya. Bagi kita orang Indonesia pasti kita berpikir, ngapain sih meneliti rayap, yang ada rayap itu harus dimusnahkan karena sudah menghancurkan lemari kayu kita, misalnya. Namun ternyata rayap itu memiliki sebuah potensi luar biasa di dalam dirinya yaitu bisa menjadi cikal bakal bahan bakar. Sebenarnya bukan rayapnya, tetapi bakteri yang ada dalam tubuh rayap yang membuat rayap berpotensi menjadi sumber energi. Lha ini malah lebih aneh lagi. Sudah ngurusin rayap, dan ternyata yang menjadi fokusnya bakteri dalam rayap. Ckckck. Aneh kan? Tapi di Jepang, hal ini dikembangkan.
Mengembangkan teknologi mungkin merupakansuatu hal yang mengasyikkan bagi pelakon dunia r&d saat ini. Tapi bisakah teknologi tersebut diterima oleh masyarakat dengan mudah? Ini juga merupakan isi materi Pak Iqbal yang mengusik sanubari saya. Masih hangatnya penolakan aplikasi energi nuklir di Indonesia sebagai sumber energi alternatif untuk bisa mengurangi kekurangan produksi listrik, bisa jadi karena kita tidak bisa memasarkan dengan baik bahwa ada lho teknologi aman untuk menghandle barang radioaktif ini. Kemudian saya pernah punya pengalaman untuk meyakinkan customer tentang penggunaan tali sling baja sebagai alat pengaman bagi pekerja maintenance boiler yang bekerja di ketinggian. Saat itu customer itu sangat menyangsikan bahwa tali ini aman bagi pekerja mereka. Ternyata memang sulit sekali meyakinkan customer tersebut, meskipun sama-sama orang teknik. Dari situ saya belajar, oo ternyata kita juga butuh orang sosial untuk memasarkan hasil teknologi ini. Mungkin kalau yang ngomong teman-teman dari sosial mereka lebih bisa memahami, karena teman-teman yang bergerak di bidang tersebut memiliki ilmu untuk menghadapi customer.
Kesimpulannya, seaneh apapun bidang kita tetap ada marketnya, namun jangan lupa untuk juga berinteraksi dengan teman-teman dari bidang lain agar pemasarannya lebih mudah, sehingga teknologi yang sudah kita pikirkan, hitung njlimet sampai tidak pulang dari laboratorium ini bisa diaplikasikan dan diterima oleh masyarakat.

Ketika Harus Sakit di Negeri Orang

Tiga hari ini saya terkapar di dormitory. Benar-benar terkapar. Mula-mula sih hanya pusing pada hari pertama. Njuk lama-lama jadi vertigo, muter-muter gak karuan. Mau bangun rasanya muter semua pandangan plus mual rasa seperti mau muntah. Akhirnya saya coba untuk tidur sambil berharap ini sakit bakalan hilang setelah bangun tidur. Ternyata ketika saya bangun, kok tidak ada perubahan malah seperti gempa bumi. Dan saya pun memberanikan diri mengirim pesan kepada beberapa teman untuk minta bantuan. Mohon maaf dan terimakasih banyak yang kemarin saya repotin, ^^V.

Akhirnya saya pun digotong ke klinik terdekat, dan diberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya oleh dokter. Alhamdulillah di hari ketiga ini sudah agak mendingan. Dari sini saya mendapat pelajaran, mudah-mudahan sih tidak terjadi lagi pada saya maupun anda, mengenai persiapan yang harus dilakukan bilamana suatu saat anda sakit.

1. Ketika sehat, tolong cek dimana lokasi klinik atau rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tinggal. Jadi ketika badan sudah mulai tidak enak, segera pergi ke klinik atau rumah sakit tersebut. Jangan menunggu sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Apalagi jika di rumah gak ada orang sama sekali. Haduuuh rasanya, amit-amit gak mau lagi.

2. Sediakan obat penghilang rasa sakit sementara, seperti obat sakit kepala, obat flu, obat magh (untuk yang biasa magh), obat batuk, obat asma, dan lain-lain. Sehingga bilamana sakitnya datang langsung bisa diobati.

3. Simpan nomor telepon atau email penting, seperti klinik/rumah sakit, ambulans, tutor, room mate, teman-teman terdekat anda. Antisipasi kalau-kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dan di rumah gak ada orang.

4. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau tahu cuaca lagi gak bersahabat mendingan jangan kelayapan (kalau ini kayaknya susah ya, apalagi kalau baru pertama kali menginjakan kaki di Jepang, inginnya lihat tempat ini lihat tempat itu) :D. Makan teratur dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Minum air putih minimal 8 gelas sehari. Tidur yang cukup, jangan begadang. Tidak boleh stress, ini yang penting. Yaa kalau yang jauh dari keluarga ditahan-tahanin dulu lah, jangan dipikir banget, bisa stress ntar (lhoh ini mah curhat :D)

Baiklah. Jaga kesehatan agar bisa terus beraktivitas.

Ibu Hayakawa Kazuko, inspirasi minggu ini

Sabtu pagi yang mendung, mendadak cerah. Di depan stasiun Suzukakedai, sekitar dua puluhan warga Jepang menggelar dagangan barang bekas pakai, seperti jaket, baju anak-anak, boneka, tas, piring, buku bacaan, CD musik, dompet, dan banyak lagi. Satu stand yang cukup melirik minat saya (dan teman saya, Mommy Hiro, yang senasib dengan saya, hehe) adalah stand buku bacaan anak-anak, milik seorang ibu paruh baya. Ia menggelar beberapa buku bacaan anak-anak yang penuh warna dan beberapa lembar catatan-catatan puisi yang dijilid sederhana. Ketika kami berhenti di depan stand itu, si Ibu penjaga stand itu tampak sedang melayani seorang anak laki-laki dan orang tuanya yang membeli sebuah buku bacaan untuk si anak tersebut. Si Ibu itu menuliskan catatan di halaman pertama buku itu sejenak dan sebuah tulisan Be Brave. Ia berpesan kepada anak untuk berani dan jangan pernah menyerah sembari memberikan buku tersebut. Kami pun curiga, nampaknya Ibu ini si penulis buku itu sendiri.

Perlahan kami membuka buku bacaan itu satu per satu. Tampak goresan huruf hiragana, katakana dan sedikit kanji serta tulisan romaji yang berbahasa inggris. Rupanya buku ini dwi lingual. Tulisan tersebut lebih mirip sebuah puisi dibanding cerita yang denotatif. Kemudian gambaran dari kata-kata itu adalah sebuah lukisan yang indah, natural dan terkesan buatan tangan. Rasa penasaran membuat kami sedikit menginterogasi si Ibu. Rupanya dugaan kami tidak salah. Ibu itu si penulis buku-buku yang ia jual di stand bazar Suzukakedai hari ini. Selain menulis ia juga menggambar ilustrasinya. Kemudian buku ini pun diterbitkan oleh sebuah penerbit di Jepang.

Sembari melihat-lihat satu per satu buku yang terhampar di lesehan, kami berdiskusi tentang yang namanya sebuah mimpi dan kerja keras. Ibu itu bercerita, bahwa beliau sangat suka menulis. Puisi, cerita, apa saja ditulis. Beliau juga gemar menggambar. Bukan gambar realistis, lebih ke gambar sederhana namun padu padan warnanya sangat indah. Hal ini terlihat di semua buku yang beliau buat. Dan mimpi Ibu tersebut adalah menerbitkan coretan-coretan pena dan kuasnya ke dalam sebuah buku, agar anak-anak bisa membacanya. Mimpi itu dimulai sekitar lima atau enam tahun lalu, kemudian pada tahun 2007, terbit buku pertamanya Poketto Ketto, disusul beberapa buku pada bulan-bulan berikutnya.

Buku yang Saya beli judulnya Ashita no Ki (Tree of Tomorrow). Buku ini bercerita tentang kehidupan di gurun yang gersang, kemudian sebatang pohon di tengah gurun, serta hidup. Satu bait terakhir yang saya petik dari buku ini,

“Life!” Someone cried out, “Life!” All the people sang. “Tomorrow!” Someone cried out, “Tomorrow!” All the people danced. “Tomorrow! Tomorrow!” The sapling grew and grew with the song

20121125-210144.jpg

Kembali ke si penulis. Ibu Hayakawa Kazuko, namanya. Ia tinggal sendiri di sebuah rumah di daerah Aoba-ku. Ia berumur 60 tahun dan masih giat menulis. Ibu Kazuko berulang-ulang menyemangati kami untuk mengejar mimpi dengan kerja keras. Beliau mencontohkan dirinya sendiri yang sudah berusia lanjut namun masih bisa mewujudkan cita-cita meskipun sedikit terlambat. Dan berulang kali beliau dengan kilauan mata memancarkan cahaya semangat, memberi dorongan untuk maju, karena kami masih sangat muda. Be Brave! Dua kata itu selalu terucap. Dan dua kata itu yang tertulis di halaman depan sampul buku yang saya beli untuk anak saya Lee Kiral Girensyaf.

“To Ree (Lee dalam bahasa Jepang), Be Brave!”

Setelah memberikan buku dan tulisan penyemangatnya di sampul depan, Ibu Hayakawa Kazuko juga memberikan kartu nama beliau serta mengundang kami datang berkunjung ke rumahnya untuk berbagi cerita. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kesana. Tak lupa sebelum berpisah kami pun berfoto bersama.

Terimakasih Ibu Hayakawa Kazuko, terimakasih atas letupan semangatnya di sabtu pagi yang cerah.

Kanagawa, 25 November 2012

futori

 

Adat Minum Teh di Tea Ceremony

Masih tentang Teh, karena saya memang penggemar berat teh. Dan disini saya berkesempatan mencicipi jenis teh yang lain dari teh yang ada di pasaran Indonesia, yaitu teh hijau. Pada cerita sebelumnya, saya mengikuti latihan tea ceremony (sayangnya tidak memakai kimono) di kelas bahasa jepang intensive yang saya ikuti. Kalau tulisan kemarin saya lebih fokus ke cara membuat tehnya, sekarang saya hendak menceritakan adat minum teh pada upacara minum teh khas Jepang.

1. Posisi Duduk

Posisi duduk berhadapan dengan si empunya rumah. Kaki dilipat dan duduk tegak. Saya pribadi sebenarnya kurang nyaman dengan posisi duduk seperti ini, karena rawan dengan yang namanya kesemutan :).

2. Cara minum teh.

Tuan rumah akan menuangkan teh dan mempersilahkan ke tamunya satu teh dan satu camilan manis. Sebelum minum teh, tamu harus makan camilan manis tersebut. Baru kemudian bisa dilanjutkan dengan minum teh. Cara minumnya pun tidak bisa sembarangan. Kedua tangan harus memegang cangkir teh tersebut. Lalu jangan langsung diminum. Putar cangkir teh sehingga gambar ornamen yang terdapat pada cangkir tersebut menghadap si tuan rumah (silahkan perhatikan pada gambar berikut). Setelah itu baru bisa diminum.

Selamat minum teh. Apalagi jika cuaca sedang hujan dan dingin. ๐Ÿ™‚

 

Kanagawa, 23 November 2012

futori

Bubble pada permukaan Teh Hijau Jepang

Minggu lalu, saya dan teman-teman satu kelas bahasa Jepang Intensif, belajar bersama bagaimana membuat green tea untuk upacara tea ceremony di Jepang. Pada latihan kali ini, sensei menggunakan teh hijau bubuk sebagai bahannya. Cara membuat secangkir (lebih tepatnya semangkuk kecil, karena bentuk cangkirnya lebih mirip mangkuk kecil di Indonesia) adalah sebagai berikut:

1. Masukkan satu setengah sendok kecil bubuk teh hijau ke dalam cangkir. Sendok kecil disini bukan sendok teh seperti yang di Indonesia ya. Sendoknya terbuat dari kayu, sangat pipih dan bagian penyendoknya tidak sebesar sendok biasa. Bentuk sendoknya bisa dilihat pada gambar berikut, nomor dua dari kiri.

2. Seduh teh dengan air panas.

3. Kocok teh dengan menggunakan alat pengocok, (lihat pada gambar pertama paling kiri) sampai timbul banyak gelembung atau bubble. Semakin kuat mengocok, semakin banyak bubble yang timbul, semakin harum tehnya.

Nah gambar di atas adalah foto teh buatan sensei yang banyak sekali bubblenya. Pada latihan tersebut saya juga mencoba membuat teh hijau, namun tidak berhasil dalam pembuatan bubble pada teh, sehingga aroma tehnya kurang harum.

Mengapa sih harus terbentuk banyak bubble di permukaan tehnya untuk menciptakan sensasi nikmatnya minum green tea? Asumsi menikmati green tea selain dengan rasanya juga dengan menghirup aroma green teanya. ๐Ÿ™‚

Saya coba menghubungkan bubble di permukaan teh dan proses evaporasinya sehingga timbul yang biasa kita sebut aroma teh. Molekul pada zat cair bergerak satu sama lain dengan berbagai nilai kelajuan . Energi rata-rata suatu partikel dalam zat cair ditentukan oleh suhunya. Semakin tinggi suhunya, akan semakin cepat laju gerakan partikel zat cair, karenanya semakin besar energi kinetik rata-ratanya. Mengapa disini ditulis energi kinetik rata-rata? Karena tidak semua molekul tersebut memiliki energi kinetik yang sama. Ada molekul yang memiliki energi kinetik yang dekat dengan nilai energi kinetik rata-rata, ada yang energi kinetiknya lebih besar dan lebih kecil dari energi kinetik rata-ratanya
Partikel-partikel di permukaan zat cair yang memiliki energi kinetik yang lebih besar dari energi kinetik rata-rata memiliki kemungkinan untuk bergerak cukup cepat untuk melepaskan diri dari gaya tarik-menarik antar molekul zat cair tersebut. Hanya molekul yang mempunyai energi kinetik di atas nilai tertentu yang dapat melepaskan diri dari gaya tarik-menarik antar molekul zat cair dan kemudian melarikan diri ke fase gas. Proses melepaskan diri inilah yang disebut penguapan atau evaporasi. Nah bubble di permukaan ini adalah fase uap yang masih berada di permukaan cairan. Setelah bubble itu pecah maka uap akan terlepas ke lingkungan.


Kembali ke perihal minum teh dan mengapa kita harus mengocoknya sampai menimbulkan banyak bubble di permukaan. Dengan mengocok teh tersebut, kita memberikan sejumlah energi tambahan ke dalam teh, sehingga molekul-molekul air teh ini akan bergerak lebih cepat dan memiliki energi kinetik yang lebih besar juga untuk kemudian melepaskan diri ke fase gas. Hal ini yang menyebabkan sensasi “aromanya lebih terasa” ketika kita minum teh dengan banyak bubble dibanding dengan teh tanpa bubble.

nb: Mohon dikoreksi jika salah.

Kodomo Nagatsuta

Ketika banyak orang Jepang mengeluhkan minimnya populasi anak-anak (kodomo) di negara mereka, mungkin mereka belum melihat daerah nagatsuta (ekstrim sedikit lah :p).

Setiap pagi, sekitar pukul 7.45 sampai 9.00, anda akan melihat puluhan anak keluar dari persembunyian mereka (rumah maksudnya). Umurnya pun bervariasi, mulai balita sampai sma. Anak-anak ini berjalan beriringan, seringnya sih berjalan sambil berbaris. Anak yang sekiranya paling tua ada di urutan paling depan. Kemudian anak-anak yang masih kecil-kecil bin imut-imut mengikuti di belakangnya. Posisi paling belakang dihuni oleh anak yang juga lebih tua tapi gak tua-tua banget yang mungkin siap untuk menjaga adek-adek tetangga di barisan depannya.
Lalu kemana mereka pergi? Tentu saja sekolah. Kalau sekolah mereka dekat mereka akan langsung menuju sekolah. Namun bagi mereka yang sekolahnya jauh biasanya mereka ke suatu tempat pool penjemputan mobil jemputan sekolah di dekat tempat tinggal mereka.
Sebetulnya saya ingin mengambil gambar anak-anak tersebut pagi ini. Tapi takut telat kereta. ๐Ÿ˜€
Selamat pagi, semangat beraktivitas.

“Gelak tawa anak merupakan pelepas penat orang tua setelah lelah bekerja.”

Di atas kereta denentoshi line, 14 November 2012
Futori

20121116-013836.jpg

alhamdulillah bisa update gambarnya. maaf burem, ngambilnya ngumpet2 sambil lari2 takut ketinggalan kereta

Cuma kasih komentar trus dibayar

Jum’at malam saya baca satu email di milis PPI Tokodai, bahwa ada tawaran interview di sebuah perusahaan konsultan di Jepang. Interviewnya tentang anime atau film kartun yang sesuai dengan market Indonesia, India dan Taiwan. Kebetulan yang dicari untuk diwawancara adalah warga negara Indonesia, India dan Taiwan khususnya remaja atau ibu-ibu yang punya anak kecil atau remaja. Pas banget lah, saya termasuk itu. Dan yang membuat saya tertarik adalah ada imbalan setelah mengikuti interview tersebut. Besarnya sih gak seberapa. Tapi lumayan lah bisa buat beli selimut tebal untuk musim dingin besok. ๐Ÿ™‚

Berbekal modal informasi tersebut, saya pun mengontak nama dan email yang ada terdapat dalam iklan itu malam itu juga, dimana isi emailnya menyatakan saya tertarik mengikuti interview ini dan menanyakan ketersediaan jadwal interview di hari sabtu atau minggu. Mereka pun menjawab email saya dan mengabarkan Sabtu siang ini (tadi siang, saya ngetik di blog ini sudah malam) mereka akan menginterview satu keluarga dari India, dan memungkinkan untuk saya bergabung di waktu yang sama. Mereka juga menawarkan untuk mengajak orang Indonesia lainnya. Saya pun mengajak teman saya yang juga ibu-ibu, Mbak Aje, untuk ikut acara ini. Beliau setuju untuk ikut. Akhirnya saya pun membalas email mereka dan menyetujui untuk datang ke kantor perusahaan konsultan tersebut di dekat stasiun Roppongi Itchome jam 2 siang.

Keesokan harinya, saya dan Mbak Aje pergi ke kantor perusahaan konsultan tersebut. Saya pun akhirnya bertemu dengan Ms. Lin, perwakilan perusahaan itu yang menjemput kami di stasiun. Ms Lin meminta kami menunggu sebentar karena ia juga menunggu kedatangan customer yang lain dari India. 30 menit kamiย  menunggu keluarga India itu di stasiun (parah banget itu India telatnya) -___-”. Selanjutnya kami bertujuh, saya dan Mbak Aje, Ms. Lin serta empat orang India berjalan menuju kantor perusahaan konsultan itu yang terletak di ARK Mori Building. Kesan pertama masuk kantor itu adalah, woooow kantornya bagus. Selanjutnya kami dibawa ke lantai 23 tempat kantor itu sebenarnya. Dan setelah masuk ke kantor, tambah wooow, ternyata ini kantor keren juga.

Kami pun masuk ke dalam ruangan meeting. Disini kami diberi sedikit introduction tentang apa yang akan mereka lakukan dan yang harus kami lakukan. Singkatnya, perusahaan ini adalah sedang mendapat klien di bidang animasi/kartun. Dan mereka ingin mengetahui suara konsumen India, Indonesia dan Taiwan, karena produk animasi mereka akan dipasarkan ketiga negara tersebut. Ms Lin akan memutarkan sekitar sepuluh film kartun dengan genre dan animasi-animasi yang berbeda-beda, kemudian tugas kami adalah mengkritisi, memberi masukan, memberi komentar apakah sesuai dengan apa yang bangsa kami inginkan atau tidak. See, so simple duty.

Satu per satu film kartun ditayangkan. Berbagai argumen pun mengalir memberi pujian, kritikan, saran, penolakan terhadap film-film kartun tersebut. Tak terasa waktu sudah berlalu 2 jam lebih. Dan semua film sudah selesai ditayangkan. Kami pun dipersilakan pulang. Namun sebelum pulang, tentu saja kami menerima amplop berisi beberapa lembar uang yen :). Alhamdulillah. Rejeki memang sudah diatur Allah. ๐Ÿ™‚

Mudah-mudahan besok-besok ada kesempatan seperti ini lagi Ya Allah. Cuma kasih komentar trus dibayar :D. Amiin.

Kanagawa, 3 November 2012

futori

Jangan Ragu untuk menghubungi Tutor!!

Duaย  hari yang lalu, Miss Se, teman satu unit dormitory saya, mengirim pesan ke saya. Dia menanyakan apakah saya sudah terdaftar di National Insurance Jepang. Saya pun menjawab sudah. Kemudian dia bertanya prosedur mendaftar asuransi tersebut. Saya menebak kalo Miss Se sedang sakit dan butuh berobat, tetapi dia belum mendaftar National Insurance. Hmmm. Kemudian saya bertanya apakah ia sedang sakit dan ingin ke dokter. Dia mengiyakan, lalu bercerita bahwa ia telah (tidak sengaja) digigit serangga di kelopak matanya, sehingga sekarang bengkak dan nyeri yang teramat sangat. Saya yang tidak tahu lokasi dokter terdekat pun bingung dan tidak bisa memberikan informasi apa-apa untuknya. Teman saya ini pun maklum dan mengakhiri percakapan surat menyurat ini.

Malamnya, kami bertemu di dormitory. Dia pun menceritakan dengan detail sebab musabab bengkak di kelopak matanya sambil sedikit terisak menahan nyeri. Kemudian dia meminta tolong kepada saya untuk mencari informasi rumah sakit/klinik yang bisa didatangi malam ini juga. Waduh, dicurhatin orang sakit sambil nangis gitu kontan membuat saya agak sedikit panik. Saya pun membongkar dokumen informasi rumah sakit yang didapat waktu pertama kali masuk dormitory. Akhirnya saya menemukan rumah sakit terdekat di Nagatsuta. Kemudian saya coba menelepon rumah sakit tersebut. Telepon saya dan diangkat, dan ……. jeng jeeeeng…. Petugasnya berbicara dalam bahasa Jepang (ya iya lah mosok bahasa German) :D. Langsung saja saya matikan teleponnya karena toh saya juga gak mengerti apa yang petugas tersebut katakan. -gomene pak petugas- :p

Miss Se masih menangis. Saya jadi kasihan dan berpikir keras apa yang bisa saya lakukan. Saya pun inisiatif menghubungi senior saya yang kebetulan satu gedung tapi beda lantai. Saya ceritakan kejadiannya. Kebetulan senior saya ini juga salah satu dari beberapa tutor yang bertugas di dormitory. Tapi saya tunggu, pesan saya belum dibalas. Miss Se mukanya udah pucat. Saya minta dia untuk mengkompres bengkak di kelopak matanya dengan menggunakan kain yang dibasahi air hangat.

Selanjutnya saya mencoba mengirim email ke alamat email resminya tutor dormitory. Saya kembali menceritakan permasalahannya, bahwa teman satu unit saya sedang sakit dan butuh pertolongan informasi rumah sakit yang buka. Tak lupa saya cantumkan nomor telpon saya, karena teman saya yang sakit ini belum punya handphone. Benar saja, tidak ada lima menit, salah seorang tutor, namanya Mr Miura, menelepon saya dan menanyakan keadaan teman saya yang sakit. Saya pun menyerahkan telepon saya ke teman saya tersebut, sehingga Mr. Miura bisa memberikan informasi kepadanya dengan lebih jelas. Berdasarkan informasi dari tutor tersebut, saat itu rumah sakit terdekat dan masih buka berada di Sakuragichou, yang letaknya sangat jauh dari dormitory kami. Teman saya akhirnya menolak untuk kesana karena sangat jauh. Ia memilih untuk diantarkan Mr. Miura ke rumah sakit keesokan harinya. Sebelum percakapan berakhir tutor tadi berpesan untuk menelepon 119 jika malam ini teman saya ini ternyata tidak sanggup menahan sakit.

Akhirnya malam tersebut teman saya memilih untuk tidur dan beristirahat. ๐Ÿ™‚

Pesan yang tersirat dari peristiwa ini adalah, ketika anda menjadi mahasiswa di negeri orang, kemudian ditempatkan di sebuah dormitory yang di dalamnya ditugaskan beberapa orang tutor, lalu anda mengalami suatu masalah (apa pun itu) yang anda tidak bisa menyelesaikan sendiri, maka jangan ragu untuk menghubungi tutor. Karena bagaimanapun juga sebagai mahasiswa baru yang belum tahu apa-apa dan bahkan belum bisa berbicara menggunakan bahasa lokal dimana anda berada, bantuan tutor akan sangat berarti bagi anda.

Terimakasih Tutor Nagatsuta House.

Kanagawa, 31 Oktober 2012

futori